Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web


Image hosted by Photobucket.com
Sekedar Renungan
  Halaman Rumah | Yang Punya Rumah | Dipersilahkan Klik | Album Gedhe 1 | Renungan | Situgunung | Album Gedhe 2 [2-3 juli 05] | Gn.Gedhe 3 [8-10 April 06]  

Aku Dimakamkan Hari Ini

Anonim
(Sumber: sebuah mailing list)

Perlahan, tubuhku ditutup
tanah, perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang, sendiri, menunggu keputusan...

Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apatah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat, rekan bisnis, atau orang-orang lain,

aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian, Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,

Tangan kananku menghibur mereka, kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,

tetapi aku tetap sendiri, disini, menunggu perhitungan ...

Menyesal sudah tak mungkin, Tobat tak lagi dianggap, dan ma'af pun tak bakal didengar,

aku benar-benar harus sendiri...

Tuhanku,
(entah dari mana kekuatan itu datang, setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu, beberapa hari saja...
Aku harus berkeliling, memohon ma'af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku, yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku. yang selama ini telah aku sakiti hati nya
yang selama ini telah aku bohongi

Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira, yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering kuumbar dulu

Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu, untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta,
teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka,
maafkan aku ayah dan ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu
beri juga aku waktu, untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh sungguh beramal soleh , Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,
bersama mereka...

begitu sesal diri ini karena hari hari telah berlalu tanpa makna penuh kesia-siaan kesenangan

yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya sama sekali mengapa ku sia sia saja, waktu hidup yg
hanya sekali itu andai ku bisa putar ulang waktu itu...

Aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma'afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan...


---

Beda Antara Suka, Cinta dan Kasih Sayang
 
Dihadapan orang yang kau cintai,

musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah

Dihadapan orang yang kau sukai,

musim dingin tetap saja musim dingin hanya suasananya lebih indah sedikit

Dihadapan orang yang kau cintai,

jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat

Dihadapan orang yang kau sukai,

kau hanya merasa senang dan gembira saja

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai,

matamu berkaca-kaca

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai,

engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,

kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam

Dihadapan orang yang kau sukai,

kata kata hanya keluar dari pikiran saja

Jika orang yang kau cintai menangis,

engkaupun akan ikut menangis disisinya

Jika orang yang kau sukai menangis,

engkau hanya menghibur saja

 

Perasaan cinta itu dimulai dari mata,

sedangkan rasa suka dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,

cukup dengan menutup telinga.

 

Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai,

cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus

tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

 

Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta... ada perasaan yang lebih mendalam.

Yaitu rasa sayang.... rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta.

Rasa yang tidak mudah berubah.

 

Perasaan yang dapat membuat mu berkorban untuk orang yang kamu sayangi.
Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.

Cinta ingin memiliki.

Tetapi Sayang hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia..walaupun harus kehilangan.

Bu, Sayalah yang Harus Lebih Takut…
Publikasi: 19/11/2003 12:56 WIB

Manusia laksana buih diluas wajah samudera.

Yang mengambang di atas tipis permukaan air.

Ketika angin bertiup, ia hilang.

Seolah ia tidak pernah ada.

Begitulah hidup kita, di hembus oleh kematian.

(Kahlil gibran)

 

eramuslim - Ibu. Saya memandang pantulan ukiran wajah cantiknya di cermin yang tergantung.

Ada yang lain dengan penampilannya. Tadinya saya tidak ‘ngeh’.

Namun ketika membantunya memakaikan kerudung berwarna merah jambu itu saya baru menyadarinya.

Seuntai tasbih, dengan warna coklat polos yang telah memudar, mengalungi lehernya.

Saya melepaskan tasbih itu dengan senyuman menggoda, dan Ibu segera menyimpannya baik-baik di bawah bantal.

Saya bersiap menemaninya pergi, membayar rekening telepon. Ketika pulang, setelah berganti pakaian,

tasbih ukuran besar itu kembali bertengger di sana, di leher Ibu.

Ingin saya bertanya, namun ia berlalu bersegera mengambil wudhu.

 

Sore kembali turun.

“Nak, Ibu sungguh takut, bekal Ibu tak cukup jika Ibu mati…” ucapnya. Suaranya terdengar jauh.

Kepala saya tegak, tak menyangka dengan topik obrolannya. Hening sesaat, suara tetes air dari kran

di kamar mandi kian jelas terdengar. Saya masih menatapnya, menarik nafas dan mengeluarkannya paksa.

Ingin membelokkan obrolan namun melihat kesungguhannya, melihat letih menelaga di matanya,

saya tak tega. Selanjutnya Ibu menambahkan, kenapa ia menakuti sebuah hal yang sudah

pasti kedatangannya. Ia merasa sudah tua, porsi rata-rata usia manusia sudah terlampauinya.

Tidurnya tak lagi mudah. Makannya tak lagi berselera. Ia merasa tak sempurna lagi melakukan ibadah,

karena kesehatannya sudah jauh menurun. Seringkali shalatnya duduk karena untuk berdiri lama

Ibu merasa tak mampu. Dan terakhir Ia mengeluhkan dadanya yang tiba-tiba kram.

 

Ia bukan takut dengan kematian, namun ia mengkhawatirkan seperti apakah malaikat Izrail menjemputnya,

berair muka jernih dan mempesona ataukah sesosok seram yang tak pernah dibayangkannya.

Ibu takut bekalnya tak cukup untuk menjadikan kampung akhiratnya menyenangkan.

Ibu gemetar kala mengingat sungguh pedih azab Allah bagi sang pendurhaka.

Ibu takut dengan persiapannya menghadapi kematian yang menurutnya masih alakadarnya.

Ia merasa maut sudah diambang karena kesehatannya yang tak lagi paripurna.

Ia merasa akan segera pindah ke ‘sana’ sedang bekalnya masih pas-pasan.

Ibu sungguh merasa kematiannya telah dekat, amat dekat.

 

Dan pada Saya, dengan lirih ia berharap sebuah penenang kegundahannya “Nak, ibu takut…”.

Entahlah, saat itu yang Saya inginkan adalah menghilang dan terbang menghindarinya.

Hingga kemudian Saya hanya mematung dan merasakan perih mememarkan hati.

Biasanya saat duduk berdekatan seperti itu, tangan saya akan nakal menjelajah setiap centi wajah syahdu itu dengan celoteh

“Idih kulit Ibu sudah keriput”, dan Ibu akan segera memindahkan tangan saya ke punggung

tangannya seraya berkata riang “Nah yang ini lebih keriput bukan”.

Biasanya saat seperti itu Saya akan tidur di pangkuannya dan mengganggunya dengan pura-pura tertidur.

Entahlah saat itu saya lebih memilih menatapnya dan menjadi pendengar yang baik.

Entah fikiranSaya buntu hingga tak sedikitpun memberi ucapan bermakna sekedar peredam gemuruh dadanya.

Entah pula jika saat yang biasanya menjadi waktu bermesra dengannya menjadi saat-saat yang ingin

saya akhiri secepatnya. Sungguh. Selanjutnya saya faham, mengapa tasbih itu selalu Ia bawa.

Setiap hening yang dijumpainya, tasbih yang dikalungkannya akan segera direngkuhi butirnya satu persatu.

“Astagfirullah…Astagfirullah…”dzikirnya terdengar perih. Mata itu terpejam,

hingga saya yang begitu dekat dan memperhatikannya kadang tak disadarinya.

 

Malam sudah dari tadi beranjak, dan kegundahan Ibu menjadi kegundahan Saya sekarang. Hati ini nyaring bersuara .

Bu, saya juga takut dengan bekalan Saya. Saya belum melakukan banyak hal yang kan memberatkan

timbangan kebaikan di akhirat kelak. Bekal saya tak ada apa-apanya di banding dengan yang sudah ibu lakukan.

 

Perjuangan Ibu diantara kesyahidan saat melahirkan 9 orang anak dan mendidiknya dengan baik mustahil

dianggap hal yang remeh. Ibu mampu melimpahi kami bertubi cinta sama rata.

Ibu juga yang membimbing kami semua menapaki hidup penuh kesabaran,

yang memberi petunjuk supaya kami tak terantuk. Yang saya tahu waktu sepertiga malam terakhir

adalah waktu yang paling ibu suka untuk menengadah jemari merenda pinta kepada yang Maha Perkasa agar

kami semua meraih bahagia, dan itu adalah sebuah amalan yang tak terkira.

Ibu yang telah berusaha menjadi Istri yang selalu mengharap keridhaan suami dan surga menjadi

sedemikian lapang jika suami ridha. Itu janji Nya.