![]() |
Sekedar
Renungan |
![]() |
|
Aku Dimakamkan Hari
Ini Anonim aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka. Tangan kananku menghibur mereka, kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan, tetapi aku tetap sendiri, disini, menunggu perhitungan
... aku benar-benar harus
sendiri... yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya sama sekali
mengapa ku sia sia saja, waktu hidup yg |
Beda Antara Suka, Cinta dan Kasih
Sayang
Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi
yang indah Dihadapan orang yang kau sukai, musim dingin tetap saja musim dingin hanya
suasananya lebih indah sedikit jantungmu tiba tiba berdebar lebih
cepat Dihadapan orang yang kau sukai, kau hanya merasa senang dan gembira
saja matamu
berkaca-kaca Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai, engkau hanya tersenyum saja kata kata yang keluar berasal dari
perasaan yang terdalam Dihadapan orang yang kau sukai, kata kata hanya keluar dari pikiran
saja engkaupun akan ikut menangis
disisinya Jika orang yang kau sukai menangis, engkau hanya menghibur
saja Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari
telinga cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang
cukup lama.
Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta...
ada perasaan yang lebih mendalam. Yaitu rasa sayang.... rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah
berubah. Perasaan yang dapat membuat mu berkorban untuk orang yang kamu
sayangi. Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia..walaupun harus kehilangan. |
|
Bu, Sayalah yang Harus Lebih Takut… Publikasi: Manusia laksana
buih diluas wajah samudera. Yang mengambang di atas tipis
permukaan air. Ketika angin
bertiup, ia hilang. Seolah ia tidak
pernah ada. Begitulah hidup
kita, di hembus oleh kematian. (Kahlil
gibran) eramuslim - Ibu. Saya memandang pantulan ukiran wajah cantiknya di cermin yang tergantung. Ada yang lain dengan penampilannya. Tadinya saya tidak ‘ngeh’. Namun ketika membantunya memakaikan kerudung berwarna merah jambu itu saya baru menyadarinya. Seuntai tasbih, dengan warna coklat polos yang telah memudar, mengalungi lehernya. Saya melepaskan tasbih itu dengan senyuman menggoda, dan Ibu segera menyimpannya baik-baik di bawah bantal. Saya bersiap menemaninya pergi, membayar rekening telepon. Ketika pulang, setelah berganti pakaian, tasbih ukuran besar itu kembali bertengger di sana, di leher Ibu. Ingin saya
bertanya, namun ia berlalu bersegera mengambil
wudhu.
Sore kembali
turun. “Nak, Ibu sungguh takut, bekal Ibu tak cukup jika Ibu mati…” ucapnya. Suaranya terdengar jauh. Kepala saya tegak, tak menyangka dengan topik obrolannya. Hening sesaat, suara tetes air dari kran di kamar mandi kian jelas terdengar. Saya masih menatapnya, menarik nafas dan mengeluarkannya paksa. Ingin membelokkan obrolan namun melihat kesungguhannya, melihat letih menelaga di matanya, saya tak tega. Selanjutnya Ibu menambahkan, kenapa ia menakuti sebuah hal yang sudah pasti kedatangannya. Ia merasa sudah tua, porsi rata-rata usia manusia sudah terlampauinya. Tidurnya tak lagi mudah. Makannya tak lagi berselera. Ia merasa tak sempurna lagi melakukan ibadah, karena kesehatannya sudah jauh menurun. Seringkali shalatnya duduk karena untuk berdiri lama Ibu merasa tak mampu. Dan terakhir Ia mengeluhkan dadanya yang tiba-tiba kram. Ia bukan takut dengan kematian, namun ia mengkhawatirkan seperti apakah malaikat Izrail menjemputnya, berair muka jernih dan mempesona ataukah sesosok seram yang tak pernah dibayangkannya. Ibu takut bekalnya tak cukup untuk menjadikan kampung akhiratnya menyenangkan. Ibu gemetar kala mengingat sungguh pedih azab Allah bagi sang pendurhaka. Ibu takut dengan persiapannya menghadapi kematian yang menurutnya masih alakadarnya. Ia merasa maut sudah diambang karena kesehatannya yang tak lagi paripurna. Ia merasa akan segera pindah ke ‘sana’ sedang bekalnya masih pas-pasan. Ibu sungguh merasa kematiannya telah dekat, amat dekat. Dan pada Saya,
dengan lirih ia berharap sebuah penenang kegundahannya “Nak, ibu takut…”.
Entahlah, saat itu yang Saya inginkan adalah menghilang dan terbang menghindarinya. Hingga kemudian Saya hanya mematung dan merasakan perih mememarkan hati. Biasanya saat duduk berdekatan seperti itu, tangan saya akan nakal menjelajah setiap centi wajah syahdu itu dengan celoteh “Idih kulit Ibu sudah keriput”, dan Ibu akan segera memindahkan tangan saya ke punggung tangannya seraya berkata riang “Nah yang ini lebih keriput bukan”. Biasanya saat seperti itu Saya akan tidur di pangkuannya dan mengganggunya dengan pura-pura tertidur. Entahlah saat itu saya lebih memilih menatapnya dan menjadi pendengar yang baik. Entah fikiranSaya buntu hingga tak sedikitpun memberi ucapan bermakna sekedar peredam gemuruh dadanya. Entah pula jika saat yang biasanya menjadi waktu bermesra dengannya menjadi saat-saat yang ingin saya akhiri secepatnya. Sungguh. Selanjutnya saya faham, mengapa tasbih itu selalu Ia bawa. Setiap hening yang dijumpainya, tasbih yang dikalungkannya akan segera direngkuhi butirnya satu persatu. “Astagfirullah…Astagfirullah…”dzikirnya terdengar perih. Mata itu terpejam, hingga saya yang begitu dekat dan memperhatikannya kadang tak disadarinya. Malam sudah dari tadi beranjak, dan kegundahan Ibu menjadi kegundahan Saya sekarang. Hati ini nyaring bersuara . Bu, saya juga takut dengan bekalan Saya. Saya belum melakukan banyak hal yang kan memberatkan timbangan kebaikan di akhirat kelak. Bekal saya tak ada apa-apanya di banding dengan yang sudah ibu lakukan.
Perjuangan Ibu diantara kesyahidan saat melahirkan 9 orang anak dan mendidiknya dengan baik mustahil dianggap hal yang remeh. Ibu mampu melimpahi kami bertubi cinta sama rata. Ibu juga yang membimbing kami semua menapaki hidup penuh kesabaran, yang memberi petunjuk supaya kami tak terantuk. Yang saya tahu waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling ibu suka untuk menengadah jemari merenda pinta kepada yang Maha Perkasa agar kami semua meraih bahagia, dan itu adalah sebuah amalan yang tak terkira. Ibu yang telah berusaha menjadi Istri yang selalu mengharap keridhaan suami dan surga menjadi sedemikian lapang jika suami ridha. Itu janji Nya. |